Senin, 05 Juni 2017

Semoga tidak pernah terulang masa airmata mengalir deras.

Apa kali ini aku sudah dapat angkuh pada dunia yang hanya sementara
Seiring berjalannya detak jantung sampai pada detak waktu kini
Kita kembali pada saat yang selalu sebelum kehancuran tiba
Berdua bersama menyatukan cerita, kecilnya asa serta mimpi

Tak lagi ada marah dan kepaitan membara yang menyiksa
Kini airmata itupun telah lalu bersama waktu yang terlewati
Sudut bibirkupun tak lagi berhenti menyungging tawa.
Pikiranku penuh tentang cinta bukan duni kelam yang pernah kuhampiri

Namun sayang, tibalah aku saat ini dihantui rasa ragu
Senyumku dibatasi takut yang membuatku terlihat sesat dihadapanmu
Sejuta sikap dihadapanmu yang kupertontonkan jauh dari rasa ketulusan
Namun kiranya kau tahu maknaku bahwa bukan itulah yang sejauh ini kita inginkan

Tapi sayang, jangan kasihani aku dengan kamu terus hadir penuh kepalsuan
Bagaimanapun yang kumau adalah sikap yang jujur dan penuh ketulusan
Maafkan aku jika sebagai tuanku kau merasa tidaak pernah menginjak kerajaan
Aku akan bersabar dan selalu belajar hingga kau dapat menggapai mahkotanya sekalian

Permohonanku tak sarat hingga menempatkanmu merasa hilang penampungnya
Jiwa, raga dan hatimu tercurah penuh tanpa menghadirkan siapa-siapa
Tawa, waktumu jua senantiasa memelangiku di setiap langkah

Serta, sertai terus aku dengan untaian bait doa tanpa melepas genggaman indah
Read More

Karma

Apa yang dunia lakukan pada manusia yang bernafas di dunia?
Apa yang Tuhan lakukan pada umatnya yang lemah dan berdosa?
Apa yang Cinta lakukan pada makhluk bodoh penuh kesalahan?
Apa yang Waktu lakukan pada kenyataan yang berujung permainan?

Aku pernah dibodohi, namum kesempatanlah yang mendekati
Aku pernah mengkhianati, namun maaflah yang menghampiri
Namun ada yang tak sama, aku ingin bercerita pada semua yang bernyawa
Kutunjukkan bahwa apa yang terjadi antara aku dan kamu adalah pengertian yang berbeda

Padamu, juga padanya. Bagaimana kerasnya genggamanku akanmu kerap kuperingatkan
Kuperhitungkan langkah aroma darah pengkhianatan serta dosa yang berlangsung dibelakang
Yang seterusnya tercium penghirupku dan tak terbantahkan oleh kamu masing-masing
Lalu meneruskan torehan luka tanpa mengasihani bangkai yang begitu saja kau hempaskan

Apa perduliku menyaksikan wanita yang kini melebur hancur dengan tak berarti sia-sia
Syukur pada Tuhan, hukuman yang kau daptkan bukan sesuatu yang apa-apa
Bagaimanapun harapanku tetaplah melihatmu menjadi sampah hina tak bermakna
Ditemani tangis dan kesadaran diri tentang harga yang kau dapat melebihi siksa jelata

Dan apa yang terjadi padaku? Segala takdir yang sudah memang kupunya hadir kembali jua
Hinanya dirimu, kamu sendiri yang mengaggungkan. Kemenanganku, kau sendiri yang menata
Teruslah hidup bagai si dungu penuh penyesalan. Karena itulah artimu sebagai wanita

Sekarang tiba saatku bahagia hidup berpegang pedang. Karena saat inilah artiku sebagai wanita.
Read More