Masih pantaskah aku sekarang
menulis tentang segala hal ini?
Yang isinya menyangkut aku dan
rasa hina karena perbuatanmu
Bagaimana mungkin tidak ada
satupun yang menyadarkan aku
Sedangkan aku tidak menutup semua
lubang yang ada dalam diri sendiri
Bukan soal kehebatan yang aku
pertontonkan penuh kesombongan
Namun waktu sepanjang ini telah
mampu kulewati pertahan tak pasti
Ini tak pantas kusebut
keberhasilan, ini terlalu hina dipandang kekuatan
Karena munafiknya, aku lewati
waktu tanpa ketegaran sedikitpun, lalu sembunyi
Menyebalkan hidup sebagai manusia
yang mengetahui segalanya tanpa pemberitahuan
Melihat waktu yang berjalan
membuat kamu melupakan kesakitan yang terlakukan
Langkahku terus ditemani rasa
sarat kehancuran dan airmata kebodohan
Sedangkan langkahmu selalu
mengisyaratkan bahagia juga ketidakpedulian
Tidak begitu puas selama bersama,
kamu juga meneruskannya hingga pada perpisahan yang kau buat
Betapa bajingannya kamu melakukan
semua yang menurutmu benar adanya dengan ketenangan
Namun tak ada yang hebat
melakukan segalanya, jika ia tidak merasa yakin dan kuat
Ketahuilah, engkau membuktikan
rasa sakit dan pengkhianatan tanpa mampu aku urung selain diam tenang
Seperti sampah yang terbuang,
sebagai pisau karat yang melemahkan fungsinya tak berarti
Kau menyadarkan aku dengan
kalimatmu, sebagai seorang pelacur perusak tak bermakna
Tak ada alasan untukku berteriak,
kau membuatnya terjadi seolah untuk menyadarkanku agar tahu diri
Dan, aku senakin yakin bahwa
seharusnya aku berhenti dari kekalahan pada skenario rencana kalian berdua
Dan kamu, diamku bukan untuk
memberi maaf, pergi, lalu menunggumu sampai nanti
Segala hal yang terjadi saat ini,
sudah terlalu cukup untuk dibawa dikemudian hari
Aku terlalu sakit untuk memaklumi
kalian lalu bersikap dewasa seperti harapan
Karena yang mampu tinggal pada
rencanamu hanya dirimu, dan ini keterlaluan untukku memilih bertahan
Kamu,
Mungkin sadarmu hilang untuk
mengetahui ludahmu sudah terlalu banyak membasahi tubuh hinaku
Namun tanganmu terlihat sangat
besar demi memeluk dan melindungi sosok yang menghancurkan aku
Atau, mungkin rencana indahmu bersamanya
belum sejauh lebih dari yang aku dapatkan saat ini?
Membungkus aku hingga bermandikan
darah dan semakin hancur tanpa ada orang lain yang menyadari sampai nanti?
Tak ada lagi yang mampu
kuperbuat, tak lagi bodoh untuk berpikir mampu untuk mencoba mempertahankan
Aku hanyalah perempuan yang
pernah salah dan mengemis harap menjadi masa depanmu
Yang terlalu banyak bermimpi dan
meyakinkan diri tanpa bersiap akan merasa malu
Karena, tanpa sadar kalau kau
jutrus melakukan sebalikny aku disetiap detik kebersamaan
Kekecewaanku tumpah, rasa sakitku
tak tertahan, kebencianku menguap, entah apa yang kini tinggal
Sampai berapa lamapun aku hidup dalam
tatapan sehancur ini akan kulewati tanpa memanggil
Karena sejauh aku menetap dalam
pengorbanan, yang kau lakukan adalah menunjukkan pengkhianatan
Dan kau, menganggap semua ini hal
benar tanpa peduli akan dampak dari segala kesalahan
Kamu.
Ini bukan impianku, dan aku tak
ingin hidup selalu seperti pelacur dalam pandanganmu
Hanya saja, butuh waktu untuk
terbiasa dan melupakan segala yang ada di masa lalu
Aku sedang tidak berjanji lalu
memaksakan kesanggupan untuk membuktikannya
Justru, aku sedang menutup semua
yang ada pada diriku sambil mencoba belajar sesuatu sederhana
Belajar berkata ‘Tidak’ sampai
suatu saat nanti yang menyangkut kamu, dalam bentuk apapun.
Bahagia atau Rasa sakit.
Bahagia atau Rasa sakit.
Jumat, 4 Des 2015. Dibawah hujan turun.